Thursday, July 20, 2006

Tradisi Pesantren dan Terorisme

Oleh Nurul Huda Maarif

NurulStigma pesantren sebagai ‘produsen’ teroris telah menggelinding ke seluruh penjuru nusantara. Masyarakatpun menangkap dan memaknai bola panas itu secara beragam. Sebagian membenarkan, sebagian ragu penuh tanya, dan sebagian besar lainnya menolak tegas. Diskusi, artikel, dan komentar terus-menerus bermunculan di berbagai media, terkait isu besar ini.

Dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menjadi satu-satunya sosok yang paling banyak dan bertubi-tubi menerima ’hadiah’ protes dan demo dari kelompok yang menolak, karena Ketua Umum Partai Golongan Karya ini dianggap sebagai pihak pertama yang ’bertanggungjawab’ menggelindingkan bola panas itu. Misalnya bermula dari statemen kontroversialnya pesantren harus diawasi hinga pengambilan sidik jari santri.
Yang pasti, kini stigma itu telah ’memporak-porandakan’ the great tradition (tradisi agung) pesantren yang selama ini dikenal sebagai lembaga pencetus muslim moderat. Jika stigma ini tidak segera dibendung, dikuatirkan efeknya akan kian meluas dan pesantren akan kian tersudut.

Untuk itu, melalui artikel sederhana ini, penulis berupaya membendung arus deras stigma itu, melalui penelusuran terhadap geneologi tradisi pesantren. Pertanyaan besarnya: benarkah secara genetis pesantren terkait atau bahkan bermula dari doktrin-doktrin terorisme?

Geneologi Tradisi Pesantren

Dalam karya monumentalnya, Kitab Kuning, Indonesianis asal Negeri Kincir Angin Martin van Bruinessen menulis, munculnya pesantren adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu. (1995: h. 17). Dengan ujaran lain, tradisi, baik tradisi pemikiran maupun lelaku yang berkembang di pesantren, tak lain merupakan implementasi ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab klasik itu. Logika sederhananya, jika pesantren dianggap sebagai produsen teroris, maka ajaran-ajaran yang terhampar dalam kitab-kitab itu juga cerminan ajaran teroris. Betulkah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis berupaya menulusuri kitab-kitab klasik apa saja yang diajarkan di pesantren dan apakah ajaran kekerasan ala terorisme itu termuat di dalamnya.

Pertama, kitab-kitab fiqh. Hampir semua pesantren di nusantara ini mengajarkan kitab-kitab fiqh yang berhaluan Mazhab al-Syafii. Itu menunjukkan, secara geneologi, pemahaman fiqh pesantren di nusantara ini tidak berujung pada bentuk fiqh yang kaku atau keras. Karena, Imam Muhammad bin Idris al-Syafii (w. 204 H) sebagai pencetusnya, dikenal sebagai pemikir moderat. Ia berhasil memoderasi pemikiran fiqh Abu Hanifah (w. 150 H) yang cenderung rasional-kontektual dan pemikiran fiqh Malik bin Anas (w. 179 H) yang cenderung kaku dan rigid.

al-Syafii juga dikenal sebagai sosok penuh toleransi atas perbedaan. Wasiatnya yang paling terkenal misalnya: ra’yuna shawab yahtamil al-khata’ wa ra’y ghairina khata’ yahtamil al-shawab (pandangan yang kami yakini benar, mungkin salah; dan pandangan orang lain yang kami yakini salah, mungkin benar). Ini menunjukkan, betapa al-Syafii berupaya menghindari klaim ’ini salah’ dan ’ini benar.’ Padahal klaim inilah yang banyak digaungkan para teroris itu, jika berhadapan dengan kelompok yang beseberangan. Untuk itu, jika runutan genetika pemikiran figh pesantren berujung pada al-Syafii, bisa dipastikan pemikiran fiqh moderatlah yang dikembangkan pesantren.

Lebih tegas lagi, kitab-kitab acuan pesantren yang berhaluan Mazhab al-Syafii seperti Fath al-Mu’in, I’anah al-Thalibin, Taqrib, Kifayah, Muhaddzab, dan sebagainya, tak ada satupun yang mendorong munculnya aksi kekerasan. Andaipun kitab-kitab itu memaparkan jihad misalnya, yang pertama kali ditekankan bukanlah jihad dalam pengertian sempit mengangkat senjata.

Kedua, kitab-kitab tasawuf. Dalam tradisi pesantren nusantara, secara umum kitab-kitab tasawuf yang diajarkan adalah karya-karya Muhammad al-Ghazali (w. 505 H), seperti Ihya ’Ulum al-Din atau Bidayah al-Hidayah. Di sana juga tak terdapat satupun ajaran yang menghendaki tindak kekerasan semisal terorisme. Bahkan, kelembutan muslim Indonesia lebih banyak diwarnai ajaran tasawuf itu.

Malah Damarjati Supadjar, kala memberi pengantar buku Islam Jawa karya Mark R Woodward menulis, Islam yang pertama kali datang ke Indonesia berhaluan Syiah Batiniyyah yang bercorak sufistik. Dan sepanjang sejarah, tidak ada aksi terorisme yang diawali ajaran tasawuf, karena tasawuf cenderung diam menyikapi gejolak kehidupan. Martin van Bruinessen juga mengakui, pada mulanya tradisi pesantren lebih bernafaskan sufistik. (h. 20).

Ketiga, kitab-kitab tauhid (teologi). Diketahui, mayoritas pesantren di nusantara cenderung mengajarkan kitab-kitab tauhid berhaluan Asy’ariyyah atau Maturidiyyah, seperti Umm al-Barahin, Sanusi, Dasuqi, Kifayah al-’Awwam, Tijan al-Darari, dan sebagainya. Mereka juga terkenal moderat, karena berhasil memoderasi tauhid a la Muktazilah yang menonjolkan nalar dan Khawarij yang gampang melontarkan tuduhan kafir pada kelompok lain. Bahkan kelompok Khawarij ini tak canggung melakukan kekerasan fisik (pembunuhan) pada kelompok yang tak sefaham. Jika secara genetis tradisi pesantren berakar dari Khawarij, maka bisa dimaklumi pesantren identik dengan aksi-aksi terorisme. Tapi nyatanya tidak demikian, karena tradisi pesantren tidak bersumber dari Khawarij.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan, secara genetika pesantren tidak terkait sedikitpun dengan kelompok yang mengedepankan kekerasan atau terorisme. Karena itu, jika terbukti ada segelintir alumni pesantren yang terseret arus terorisme, bisa dipastikan mereka telah termakan ajaran-ajaran yang berkembang di luar tradisi pesantren. Sebagai bukti, dalam karyanya Aku Melawan Terorisme, Imam Samudra yang alumi pesantren mengaku, dirinya bertindak demikian karena terilhami buku Ayat al-Rahman fi Jihad al-Afghan karya Abdullah Azzam. Buku ini tidak pernah dijadikan acuan dalam tradisi pesantren.

Selain itu, jika pesantren diklaim sebagai produsen teroris, padahal pesantren hanya mengamalkan ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab klasik, mengapa hanya pesantren di Indonesia saja yang dikait-kaitkan dengan terorisme, sementara banyak pesantren di negara lain juga mengajarkan kitab-kitab yang sama? Ini pertanyaan besar yang sulit dicari jawabnya. Wa Allah a’lam.[]

3 Comments:

At 10:14 AM, July 31, 2009, Blogger pakbudi said...

bagaimana caranya dapat kitab sanusi dasuqi? Trim.

 
At 8:13 AM, May 01, 2010, Blogger Kang Fi'i said...

Asalamu'alaikum..
artikelnya bagus,minta izin meng'copy'..

 
At 7:40 PM, May 01, 2010, Blogger nuhamaarif.blospot.com said...

silahkan saja. semoga manfaat. nhm

 

Post a Comment

<< Home